Tuesday, November 22, 2005

Kehidupan Berumah Tangga

Untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang islami,
ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian suami
dan isteri sebagai berikut:

1. Memperkokoh Rasa Cinta
Cinta merupakan perekat dalam kekokohan kehidupan
rumah tangga, bila rasa cinta suami kepada isteri atau
sebaliknya telah hilang dari hatinya, maka kehancuran
rumah tangga sangat sulit dihindari. Oleh karena itu
suasana cinta mencintai harus saling ditumbuh-suburkan
atau diperkokoh, tidak hanya pada masa-masa awal
kehidupan rumah tangga, tapi juga pada masa-masa
selanjutnya hingga suami isteri mencapai masa tua dan
menemui kematian.

Rasulullah Saw sebagai seorang suami berhasil membagi
dan menumbuh-suburkan rasa cinta kepada semua
isterinya sehingga isteri yang satu mengatakan dialah
yang paling dicintai oleh Rasul, begitu juga dengan
isteri yang lainnya.

Berumah tangga itu diumpamakan seperti orang yang
sedang berlayar, ketika pelayaran baru dimulai,
kondisi di kapal masih tenang karena disamping
penumpangnya betul-betul ingin menikmati pelayaran
itu, juga karena belum ada kesulitan, belum ada ombak
dan angin kencang yang menerpa, tapi ketika kapal itu
telah mencapai lautan yang jauh, barulah terasa ombak
besar dan angin yang sangat kencang menerpa, dalam
kondisi seperti itu saling mengokohkan rasa cinta
antara suami dengan isteri menjadi sesuatu yang sangat
penting dalam menghadapi dan mengatasi terpaan badai
kehidupan rumah tangga. Pernikahan dilangsungkan
dengan maksud agar lelaki dan wanita yang mengikat
hubungan suami isteri dapat memperoleh ketenangan dan
rasa cinta.

Allah berfirman yang artinya:
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menjadikan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya,
dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
menjadi tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS
30:21).

2. Saling Hormat Menghormati
Saling cinta mencintai itu harus diperkokoh dengan
saling hormat menghormati, suami hormat kepada isteri
dengan memberikan penghargaan yang wajar terhadap
hal-hal baik yang dilakukan isterinya, begitu juga
dengan isteri terhadap suaminya dengan menerima
apa-apa yang diberikan suami meskipun jumlahnya tidak
banyak.

Awal-awal kehidupan rumah tangga selalu dengan masa
romantis yang segalanya indah, bahkan adanya kelemahan
dan kekurangan tidak terlalu dipersoalkan, romantisme
memang membuat penilaian suami terhadap isteri dan
isteri terhadap suaminya menjadi sangat subyektif.
Tapi ketika rumah tangga berlangsung semakin lama
mulailah muncul penilaian yang obyektif dalam arti
suami menilai isteri atau isteri menilai suami apa
adanya.

Dulu ketika masa romantis, kekurangan masing-masing
sebenarnya sudah terlihat tapi tidak terlalu
dipersoalkan, tapi sekarang kekurangan yang tidak
prinsip saja dipersoalkan, dalam kondisi seperti
itulah diperlukan konsolidasi hubungan antara suami
dan isteri hingga masing-masing menyadari bahwa memang
kekurangan itu ada tapi dia juga harus menyadari akan
adanya kelebihan.

Dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah Saw, beliau
telah mencontohkan kepada kita betapa beliau berlaku
baik kepada keluarganya, dalam satu hadits beliau
bersabda:

Orang yang paling baik diantara kamu adalah yang
paling baik dengan keluarganya dan aku adalah yang
paling baik terhadap keluargaku (HR. Thabrani).

3. Saling Menutupi Kekurangan
Suami dan isteri tentu saja memiliki banyak
kekurangan, tidak hanya kekurangan dari segi fisik,
tapi juga dari sifat-sifat. Oleh karena itu suami
isteri yang baik tentu saja menutupi
kekurangan-kekurangan itu yang berarti tidak suka
diceriterakan kepada orang lain, termasuk kepada orang
tuanya sendiri.

Meskipun demikian dengan maksud untuk konsultasi dan
perbaikan atas persoalan keluarga kepada orang yang
sangat dipercaya, maka seseorang boleh saja
mengungkapkan kekurangan sifat-sifat suami atau
isteri.

4. Kerjasama Dalam Keluarga
Dalam mengarungi kehidupan rumah tangga tentu saja
banyak beban yang harus diatasi, misalnya beban
ekonomi, dalam hal ini suami harus mencari nafkah dan
isteri harus membelanjakannya dengan sebaik-baiknya
dalam arti untuk membeli hal-hal yang baik dan tidak
boros. Begitu juga dengan tanggung jawab terhadap
pendidikan anak yang dalam kaitan ini diperlukan
kerjasama yang baik antara suami dan isteri dalam
menghasilkan anak-anak yang shaleh.

Kerjasama yang baik dalam mendidik anak itu antara
lain dalam bentuk sama-sama meningkatkan keshalehan
dirinya sebagai orang tua karena mendidik anak itu
harus dengan keteladanan yang baik, juga tidak ada
kontradiksi antara sikap bapak dengan ibu dalam
mendidik anak dan sebagainya. Keharusan kita
bekerjasama dalam hal-hal yang baik difirmankan Allah
yang artinya:

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran (QS 5:2).

5. Memfungsikan Rumah Tangga Secara Optimal
Masa sesudah menikah juga harus dijalani dengan
memfungsikan keluarga seoptimal mungkin sehingga rumah
tangga itu tidak sekedar dijadikan seperti terminal
dalam arti anggota keluarga menjadikan rumah sekedar
untuk singgah sebagaimana terminal, tapi semestinya
rumah tangga itu difungsikan sebagai tempat kembali
guna menghilangkan rasa penat dan memperbaiki diri
dari pengaruh yang tidak baik serta memperkokoh
hubungan dengan sesama anggota keluarga.

Oleh karena itu keluarga harus dioptimalkan fungsinya
seperti masjid dalam arti rumah difungsikan juga
sebagai tempat untuk mengokohkan hubungan dengan Allah
Swt dan sesama anggota keluarga sehingga bisa
dihindari sikap individual antar sesama anggota
keluarga.

Disamping itu rumah juga harus difungsikan seperti
madrasah yang anggota keluarganya harus memperoleh
ilmu dan pembinaan karakter sehingga suami dan isteri
diharapkan berfungsi seperti guru bagi anak-anaknya
yang memberikan ilmu dan keteladanan yang baik.

Yang juga penting dalam kehidupan sekarang dan masa
mendatang adalah memfungsikan keluarga seperti benteng
pertahanan yang memberikan kekuatan pertahanan aqidah
dan kepribadian dalam menghadapi godaan-godaan
kehidupan yang semakin banyak menjerumuskan manusia ke
lembah kehidupan yang bernilai maksiat dalam pandangan
Allah dan rasul-Nya.

Mewujudkan rumah tangga yang Islami merupakan sesuatu
yang tidak mudah, banyak sekali kendala, baik internal
maupun eksternal yang harus dihadapi. Namun harus
diingat bahwa kendala yang besar dan banyak itu bukan
berarti mewujudkan rumah tangga yang Islam tidak bisa,
setiap kita harus yakin akan kemungkinan bisa
membentuk rumah tangga yang Islami, kalau kita sudah
yakin, maka kita dituntut membuktikan keyakinan itu
dengan kesungguhan. Hal ini karena melaksanakan ajaran
Islam memang sangat dituntut kesungguhan yang sangat.

Akhirnya untuk meraih kehidupan rumah tangga yang
bahagia, ada baiknya kita telaah hadits Rasul saw
berikut ini:
"Empat perkara yang merupakan dari kebahagian
seseorang, yaitu: mempunyai isteri yang shalehah,
mempunyai anak yang berbakti, mempunyai teman yang
shaleh dan mencari rizki di negerinya sendiri" (HR.
Dailami dari Ali ra)"


Monday, August 22, 2005

Indahnya Berumah Tangga

Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar "Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri". Aih...Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik, itu yang saya baca dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia telah menjalankan sebuah sunnah yang di sukai Nabi. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah dalam kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan keutamaan pernikahan. Dalam firmannya, "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang berfikir." (QS. Ar-Rum: 21).
Menikah itu Subhanallah indah, kata Almarhum ayah saya dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri. Beliau mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik mereka saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun. Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah. Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.
Saya jadi ingat, saat itu seorang istri memarahi suaminya habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, peluh masih membasah, kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu hebat. Saya kira akan terjadi "perang" hingga bermaksud mengajak anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang istri. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian dan merdu uaranya bertutur "Maafkan Mama ya Pa..". Gegas ia raih tangan suami dan mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali suaminya datang. Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia berbuat demikian. "Saya mencintainya, karena ia istri yang dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya mencintainya" demikian jawabannya.
Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai tanda-tanda. Pertama, ketika mereka saling mencintai maka sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka. Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan seorang suami tentu saja akan mengutamakan istri dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada yang merasa superior. Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung. Ada do'a istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri kepada Allahi supaya suami selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan suami yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada istri tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.
Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan saya mengingatkan lagi sebuah hadist nabi. Ada baiknya para istri dan suami menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad. Salah satu wasiat Rasulullah yang diucapkannya pada saat-saat terakhir kehidupannya dalam peristiwa haji wada' : "Barang siapa - diantara para suami - bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang siapa -diantara para istri- bersabar atas perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiah, istri fir'aun" (HR Nasa-iy dan Ibnu Majah ). Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Tak ada salahnya juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya pernikahan, Patrikan firman Allah dalam ingatan : "...Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah:187)Torehkan hadist ini dalam benak : "Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya" (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Alkhudzri r.a) Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah istri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada para Istrinya. Begitu juga sebaliknya. Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami. Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki "Surga". Dia memegang teguh firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6) Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan. Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian. Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran, Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman. Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah. Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world "Akhirat". Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian. Allahumma Aamiin. Barakallahu, untuk para pengantin muda. Mudah-mudahan saya mampu mengikuti tapak kalian yang begitu berani mengambil sebuah keputusan besar, yang begitu nyata menandakan ketaqwaan kepada Allah serta ketaatan kepada sunnah Rasul Pilihan. Mudah-mudahan jika giliran saya tiba, tak perlu lagi saya bertanya mengapa teman saya menjadi begitu murah senyum. Karena mungkin saya sudah mampu menemukan jawabannya sendiri.

Sunday, August 21, 2005

Cinta....

Cinta...
Pada siapa ia harus dilekatkan
Seseorang memberikannya pada sesuatu yang nisbi
Maka ia kecewa, saat cinta itu tak berbalas
Seseorang memberikannya pada sesuatu yang lemah
Maka ia kecewa, saat kemudian ia menjadi hina tak berdaya
Seseorang memberikannya pada sesuatu yang miskin
Maka ia akan mendapati dirinya kehilangan semua yang pernah diraihnya

Maka tetaplah lurus menatap segala masalah di dunia fana ini
termasuk saat bercinta....
Bahwa saat kita memberikan cinta kepada yang haq
maka Dia tidak akan pernah menyiakan cinta itu
Saat kita memberikannya pada Yang Maha Kuat
maka kita akan kokoh berdiri dihadapan semua tantangan
Dan saat kita memberikannya pada Yang Maha Kaya
maka kita akan dapati bahwa setiap masalah begitu mudah dilalui

Ahlan Wa Sahlan

Selamat datang saudariku... yang mendirikan shalat dan berpuasa dengan patuh dan penuh konsentrasi
Selamat datang saudariku... yang memakai hijab karena rasa malu dan untuk menjaga kehormatan serta keteguhan
Selamat datang saudariku... yang selalu belajar dan menelaah dengan penuh kesadaran dan kelurusan hati
Selamat datang saudariku... yang selalu menepati janji, dipercaya, dan jujur
Selamat datang saudariku... yang selalu bersabar, mawas diri, dan bertaubat
Selamat datang saudariku... yang selalu berdzikir, bersyukur, dan berdoa
Selamat datang saudariku... yang menjadikan Aisyah, Maryam, Fatimah, dan Khadijah sebagai panutan
Selamat datang saudariku... yang mendidik para pahlawan dan mencetak laki-laki terhormat
Selamat datang saudariku... yang selalu menjaga nilai-nilai dan memelihara suri tauladan
Selamat datang saudariku... yang selalu takut kepada Allah dan menjauhi apa-apa yang diharamkan oleh Allah
(dikutip dari "Menjadi Wanita Paling Bahagia")