Kehidupan Berumah Tangga
Untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang islami,
ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian suami
dan isteri sebagai berikut:
1. Memperkokoh Rasa Cinta
Cinta merupakan perekat dalam kekokohan kehidupan
rumah tangga, bila rasa cinta suami kepada isteri atau
sebaliknya telah hilang dari hatinya, maka kehancuran
rumah tangga sangat sulit dihindari. Oleh karena itu
suasana cinta mencintai harus saling ditumbuh-suburkan
atau diperkokoh, tidak hanya pada masa-masa awal
kehidupan rumah tangga, tapi juga pada masa-masa
selanjutnya hingga suami isteri mencapai masa tua dan
menemui kematian.
Rasulullah Saw sebagai seorang suami berhasil membagi
dan menumbuh-suburkan rasa cinta kepada semua
isterinya sehingga isteri yang satu mengatakan dialah
yang paling dicintai oleh Rasul, begitu juga dengan
isteri yang lainnya.
Berumah tangga itu diumpamakan seperti orang yang
sedang berlayar, ketika pelayaran baru dimulai,
kondisi di kapal masih tenang karena disamping
penumpangnya betul-betul ingin menikmati pelayaran
itu, juga karena belum ada kesulitan, belum ada ombak
dan angin kencang yang menerpa, tapi ketika kapal itu
telah mencapai lautan yang jauh, barulah terasa ombak
besar dan angin yang sangat kencang menerpa, dalam
kondisi seperti itu saling mengokohkan rasa cinta
antara suami dengan isteri menjadi sesuatu yang sangat
penting dalam menghadapi dan mengatasi terpaan badai
kehidupan rumah tangga. Pernikahan dilangsungkan
dengan maksud agar lelaki dan wanita yang mengikat
hubungan suami isteri dapat memperoleh ketenangan dan
rasa cinta.
Allah berfirman yang artinya:
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menjadikan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya,
dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
menjadi tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS
30:21).
2. Saling Hormat Menghormati
Saling cinta mencintai itu harus diperkokoh dengan
saling hormat menghormati, suami hormat kepada isteri
dengan memberikan penghargaan yang wajar terhadap
hal-hal baik yang dilakukan isterinya, begitu juga
dengan isteri terhadap suaminya dengan menerima
apa-apa yang diberikan suami meskipun jumlahnya tidak
banyak.
Awal-awal kehidupan rumah tangga selalu dengan masa
romantis yang segalanya indah, bahkan adanya kelemahan
dan kekurangan tidak terlalu dipersoalkan, romantisme
memang membuat penilaian suami terhadap isteri dan
isteri terhadap suaminya menjadi sangat subyektif.
Tapi ketika rumah tangga berlangsung semakin lama
mulailah muncul penilaian yang obyektif dalam arti
suami menilai isteri atau isteri menilai suami apa
adanya.
Dulu ketika masa romantis, kekurangan masing-masing
sebenarnya sudah terlihat tapi tidak terlalu
dipersoalkan, tapi sekarang kekurangan yang tidak
prinsip saja dipersoalkan, dalam kondisi seperti
itulah diperlukan konsolidasi hubungan antara suami
dan isteri hingga masing-masing menyadari bahwa memang
kekurangan itu ada tapi dia juga harus menyadari akan
adanya kelebihan.
Dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah Saw, beliau
telah mencontohkan kepada kita betapa beliau berlaku
baik kepada keluarganya, dalam satu hadits beliau
bersabda:
Orang yang paling baik diantara kamu adalah yang
paling baik dengan keluarganya dan aku adalah yang
paling baik terhadap keluargaku (HR. Thabrani).
3. Saling Menutupi Kekurangan
Suami dan isteri tentu saja memiliki banyak
kekurangan, tidak hanya kekurangan dari segi fisik,
tapi juga dari sifat-sifat. Oleh karena itu suami
isteri yang baik tentu saja menutupi
kekurangan-kekurangan itu yang berarti tidak suka
diceriterakan kepada orang lain, termasuk kepada orang
tuanya sendiri.
Meskipun demikian dengan maksud untuk konsultasi dan
perbaikan atas persoalan keluarga kepada orang yang
sangat dipercaya, maka seseorang boleh saja
mengungkapkan kekurangan sifat-sifat suami atau
isteri.
4. Kerjasama Dalam Keluarga
Dalam mengarungi kehidupan rumah tangga tentu saja
banyak beban yang harus diatasi, misalnya beban
ekonomi, dalam hal ini suami harus mencari nafkah dan
isteri harus membelanjakannya dengan sebaik-baiknya
dalam arti untuk membeli hal-hal yang baik dan tidak
boros. Begitu juga dengan tanggung jawab terhadap
pendidikan anak yang dalam kaitan ini diperlukan
kerjasama yang baik antara suami dan isteri dalam
menghasilkan anak-anak yang shaleh.
Kerjasama yang baik dalam mendidik anak itu antara
lain dalam bentuk sama-sama meningkatkan keshalehan
dirinya sebagai orang tua karena mendidik anak itu
harus dengan keteladanan yang baik, juga tidak ada
kontradiksi antara sikap bapak dengan ibu dalam
mendidik anak dan sebagainya. Keharusan kita
bekerjasama dalam hal-hal yang baik difirmankan Allah
yang artinya:
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran (QS 5:2).
5. Memfungsikan Rumah Tangga Secara Optimal
Masa sesudah menikah juga harus dijalani dengan
memfungsikan keluarga seoptimal mungkin sehingga rumah
tangga itu tidak sekedar dijadikan seperti terminal
dalam arti anggota keluarga menjadikan rumah sekedar
untuk singgah sebagaimana terminal, tapi semestinya
rumah tangga itu difungsikan sebagai tempat kembali
guna menghilangkan rasa penat dan memperbaiki diri
dari pengaruh yang tidak baik serta memperkokoh
hubungan dengan sesama anggota keluarga.
Oleh karena itu keluarga harus dioptimalkan fungsinya
seperti masjid dalam arti rumah difungsikan juga
sebagai tempat untuk mengokohkan hubungan dengan Allah
Swt dan sesama anggota keluarga sehingga bisa
dihindari sikap individual antar sesama anggota
keluarga.
Disamping itu rumah juga harus difungsikan seperti
madrasah yang anggota keluarganya harus memperoleh
ilmu dan pembinaan karakter sehingga suami dan isteri
diharapkan berfungsi seperti guru bagi anak-anaknya
yang memberikan ilmu dan keteladanan yang baik.
Yang juga penting dalam kehidupan sekarang dan masa
mendatang adalah memfungsikan keluarga seperti benteng
pertahanan yang memberikan kekuatan pertahanan aqidah
dan kepribadian dalam menghadapi godaan-godaan
kehidupan yang semakin banyak menjerumuskan manusia ke
lembah kehidupan yang bernilai maksiat dalam pandangan
Allah dan rasul-Nya.
Mewujudkan rumah tangga yang Islami merupakan sesuatu
yang tidak mudah, banyak sekali kendala, baik internal
maupun eksternal yang harus dihadapi. Namun harus
diingat bahwa kendala yang besar dan banyak itu bukan
berarti mewujudkan rumah tangga yang Islam tidak bisa,
setiap kita harus yakin akan kemungkinan bisa
membentuk rumah tangga yang Islami, kalau kita sudah
yakin, maka kita dituntut membuktikan keyakinan itu
dengan kesungguhan. Hal ini karena melaksanakan ajaran
Islam memang sangat dituntut kesungguhan yang sangat.
Akhirnya untuk meraih kehidupan rumah tangga yang
bahagia, ada baiknya kita telaah hadits Rasul saw
berikut ini:
"Empat perkara yang merupakan dari kebahagian
seseorang, yaitu: mempunyai isteri yang shalehah,
mempunyai anak yang berbakti, mempunyai teman yang
shaleh dan mencari rizki di negerinya sendiri" (HR.
Dailami dari Ali ra)"
